ME-A-COFFEE: Penjualan kopi unik!

mea-coffee

Tiga bulan lagi,  tanggal 27/12/2016 ada softlaunching produk kopi baru. Namanya ME-A-COFFEE.  Dengan tagline “Kopi untuk setiap pribadi”  atau “Coffee for every single one” penjualan kopi ini mempunyai cara pemasaran yang unik.

Kopi hanya dijual melalui website. Tahap awal tidak dibuka untuk umum tetapi hanya kalangan terbatas. Bahkan nama websitenya pun akan diumumkan sekitar dua minggu kemudian.

Ketika dilakukan wawancara dengan CEO ME-A-COFFEE apakah ada racikan khusus produk yang dijual?  Jawabnya “Kami bukan perakit,  kami hanya mengambil kopi murni dari petani,  memilih dan memilahkan yang terbaik dan mengemasnya untuk anda!”. Kelihatan sederhana  bukan? Sepertinya.

“Kami akan menjual kopi yang dibuat dalam grade tertentu dan jenis asal lokasi kopi”

Jadi apakah kopi itu dari Indonesia saja?
“Pada tahap awal dari Indonesia dulu,  seperti dari Aceh,  Medan,  Lampung,  Makassar,  dll. Namun tidak menutup kemungkinan untuk mengambil dari negara lain. ”

Apakah yang dijadikan benchmark dalam mengukur grade kopi teersebut?
” Disitulah uniknya,  kami menciptakan sendiri standard kami. Syukur-syukur kalau standard grade ini bisa diikut produaen kopi lainnnya.. Hehe. Kami saat ini mempunyai 12 orang pencicip kopi yang akan menentukan grade kopi dan bahkan meng-create grade baru untuk kopi yang terasa berbeda. Bahkan dalam plan kami tugas pencicip kopi akan diambil alih juga oleh komunitas”

Jenis kopi apa saja yang akan dijual saat ini?

“Saat ini kami akan menjual retail dalam kemasan khusus dan dalam bentuk bubuk,  supaya rata-rata orang bisa langsung menyeduhnya. Selain itu kami juga menjual alat-alat pembuat kopi supaya orang bisa dengan gampang langsung bisa menikmati kopi. ”

Dalam menjual kopi kami akan menggunakan rating dan Mea’ Choice, sehingga setiap pembeli dapat mempertimbangkan pilihannya sendiri.

Trus kapan bisa mulai dicicipi kopinya pak?

“Tunggu tanggal mainnya… Hehehe” Sambil berlalu.

Kontroversi Agama Tidak Akan Pernah Berakhir (2)

Bulan-bulan ini isu soal agama sedang ramai diributkan di sosial media. Terutama sejak Jokowi terpilih jadi Presiden dan wakilnya Basuki Tjahja Purnama otomatis akan menggantikan posisi pak Jokowi.

FPI dan sifat Ahok berhasil membuat kutub yang jelas khususnya antara agama Islam dan Kristen. Masyarakat pun mulai bereaksi. Khususnya umat muslim sebagai pemeluk agama mayoritas punya dua kelompok besar yang berbeda pendapat.

Yang satu mendukung dinamika perubahan khususnya mengenai pejabat non muslim, sedang yang lain ingin dihargai sebagai umat yang mayoritas.

Akhirnya berbagai macam link pun saling share di medsos untuk mendukung pendapat yang satu untuk mematahkan argumen pendapat yang lain.

Bahkan sudah semakin vulgar menuduh kelompok yang satu dengan yang lainnya.

Tentu sebagai umat Kristen saya lebih pro ke umat Islam yang lebih liberal yang menghargai perbedaan, bukan yang eksklusif Islam atau Islam militan.

Tetapi bukan itu yang ingin saya sampaikan di sini.

Seperti judul yang saya tulis, agama akan selalu menjadi kontroversi, bukan hanya antar agama, bahkan di dalam agama itu sendiri pun terjadi kontroversi.

Pembagian brosur dan souvenir lainnya dengan maksud mengenalkan agama Kristen seperti dalam tayangan Car Free Day saya yakin banyak pemeluk Kristen pun tidak setuju upaya penyebaran “kabar baik” seperti itu. Sama halnya dengan ketidaksetujuan sebagian umat Islam dengan cara-cara FPI menunjukkan ke”Islam”an di Indonesia.

Terus bagaimana solusinya menghadapi kontroversi ini?

Umat manusia hanyalah titik-titik debu di jagat alam raya ini. Ukuran Bumi ibarat bola golf dan bola basket bila dibandingkan dengan Jupiter, bagaimana dibandingkan dengan matahari, bagaimana dengan galaksi, bagaimana dengan jagat raya?

Persoalan perbedaan agama jadi tidak ada artinya di Mata Tuhan semagai pemilik jagat raya ini. Agama yang satu dengan yang lainnya jadi tidak berarti di hadapan Tuhan.

Apakah tidak terpikir bahwa Tuhan sendiri yang menciptakan perbedaan? Apa tidak terpikir bahwa mungkin juga satu agama yang benar, tetapi Tuhan tidak beritahu agama apa itu, ternyata Tuhan hanya ingin tahu bagaimana cara kita memeluk/meyakini agama tersebut?

Jadi, yang terbaik adalah, jalankanlah agama kita masing-masing, dengan sebaik-baiknya menurut keyakinan masing-masing. Biarlah orang lain tertarik masuk ke agama yang anda peluk karena keyakinannya sendiri. Jangan coba-coba menarik orang lain ke agama anda, eh malah anda yang tidak masuk sorga. Janganlah menuduh orang kafir, eh malah nanti Tuhan yang membuang anda ke neraka.

Semua agama mengajarkan perbuatan baik. Lakukan saja itu. Semoga perbedaan bukan jadi alat untuk berdebat sehingga menjadi kontroversi yang tidak akan pernah berakhir.
Berusahalah untuk ingin tahu agama lain, sehingga begitu anda mengetahuinya, ada dua akibat, anda semakin kuat dalam iman dengan agamamu, atau berpindah keyakinan. Dan tidak ada yang tersakiti, karena itu hak yang Tuhan berikan buat anda.

Baca juga kontroversi agama versi yang lama. Dimana anda bisa lihat bagaimana komen positif orang mengenai pemikiran ini.

Asuransi Pengangkutan

Dalam dunia usaha pendistribuaian barang hasil produksinya merupakan mata rantai penting supaya produknya bisa terjual ke pasar.

Kegagalan dalam pengiriman dipastikan akan mempengaruhi cash flow perusahaan maupun kepercayaan konsumen.

Untuk mengurangi kerugian finansial perusahaan akibat accident yang terjadi selama barang dalam proses pendistribusian,  maka diperlukan mekanisme pengalihan resiko ini ke perusahaan pengelola resiko yaitu perusahaan asuransi.

Apa sih yang dijamin dalam polis asuransi pengangkutan barang ini? Seperti yang saya sebutkan diatas tadi,  sepanjang kerugian yang terjadi bersifat accident,  atau ketidak sengajaan atau tidak terduga,  itu yang dijamin dalam polis asuransi ini.

Namun sebagai perusahaam bisnis,  perusahaan asuransi juga membatasi jaminan yang diberikan yang disebut dengan istilah “pengecualian-pengecualian”.

Dan, untuk menyesuaikan dengan budget konsumen yang akan membeli produk asuransi ini,  asuransi pengangkutan barang dijual dalam tiga paket yang disebut ICC “A”, ICC “B”, ICC “C”. Yang paling luas dan lengkap adalah ICC “A”.

Mengenai pricing premi asuransi pengangkutan tergantung pada beberapa hal berikut ini:
–  jenis barang yang diangkut
–  alat angkut yang dipakai
–   paket asuransi yang diminta
–  deductible yang dikenakan

Selain menentukan premi,  hal-hal diatas juga mempengaruhi diterima atau ditolaknya permintaan asuransi anda.  Contoh: bila perusahaan anda ingin mengasuransikan pengangkutan barang pecah belah,  bisa jadi ada yang menolak.  Kalaupun menerima,  biasanya hanya mau paket ICC “C” aja dan mengenakan deductible yang tinggi.

Namun anda nggak usah kuatir,  persaingan usaha asuransi cukup ketat,  premi asuransi pengangkutan cenderung kompetitif koq.  Namun saran saya,  anda jangan asal beli yang murah saja.  Perhatikan perusahaannya dan pelayanan dari orang-orangnya,  Karena yang paling penting itu sebenarnya pelayanan saat terjadi klaim.  Perusahaan asuransi besar pun tidak menjamin lebih baik dalam pelayanan dibanding perusahaan kecil.

Tips dari saya,  bila ada perusahaan asuransi tetap bertahan dengan penawaran premi yg cukup tinggi dibanding kebanyakan pesaing dan anda tahu pelayanan orang-orangnya baik,  ambillah asuransi dari perusahaan ini.

Bila anda ingin mendapat penjelasan atau konsultasi gratis lebih lanjut bisa hubungi via email atau facebook.  Kami ingin konsumen asuransi Indonesia mendapat pengetahuan yang baik dan benar mengenai asuransi.

Karena Because

Judul ini saya buat karena ingat candaan garing waktu kuliah dulu: Mengapa why selalu always tetapi but dan and tidak pernah never? Maka jawabannya adalah judul diatas.

Namun, judul itu berkaitan dengan yang saya mau sampaikan, tentang sesuatu yang luar biasa, yang telah diterapkan oleh leader-leader top dan perusahaan-perusahaan besar di dalamnya. Wajib baca buat anda yang punya kuasa membuat strategi perusahaan. Bagaimana mereka bisa jadi leader top atau perusahaan hebat padahal sebelumnya di kritik habis, secara teori sebagian diantaranya kurang modal, sebagian lagi kurang pengalaman.

Saya ambil contoh leader yang patut diberi jempol: Jokowi. Jokowi pertama kali jadi sorotan karena kesuksesannya memimpin kota Solo. Namun yang membuatnya sering muncul di media adalah saat terjadi pemboman di salah satu gereja di Solo. Terlihat bagaimana warga Solo begitu respek pada beliau.

Kemenangannya sebagai Gubernur DKI membalikkan semua prediksi. Bayangkan semua lembaga survey menyatakan bahwa Fauzi Bowo punya kans menang bahkan satu putaran. Partai yang dukung pun cuma PDI-P dan Gerindra. Kenapa bisa menang?

Bahkan sampai hari ini pun, setahun lebih pemerintahannya, berdasarkan hasil survey, tingkat kepuasan masyarakat sangat tinggi, bahkan saat dimana semua janji-janji kampanyenya belum terwujud, banjir masih terjadi, kemacetan dimana2 kartu sehat dan kartu pintar pun masih ada kendala. Kenapa masih di sukai?

Inilah rahasianya: Karena because. Kenapa?

“Karena” dan “because” itu sama saja artinya, satu bahasa Indonesia, satu lagi bahasa Inggris. Ini yang saya maksud.

Jokowi mau menjadi gubernur bukan karena jabatan, dia ingin membuat perubahan, membuat Jakarta Baru, istilah yang dipakai saat kampanye. Dan apa yang dia percaya bisa diwujudkan, itulah yang dipercaya orang yang memilihnya.

Jakarta Baru yang bebas dari korupsi, bebas dari kolusi, pemerintah yang merakyat dan yang melayani, pemerintah yang bebas dari belenggu preman dan pengusaha hitam, itu yang diinginkan warga Jakarta.

Impian yang ingin diwujudkan Jokowi sama dengan yang diinginkan warga Jakarta. Tujuannya atau “why” sama, dari sisi yang berbeda, satu sebagai yang akan dipilih sebagai penerima kuasa, satu lagi pemilih yaitu warga Jakarta

Ini dulu yang diyakini pemilih: “why”-nya.
Why-nya sudah sama baru mereka lihat “what”-nya. Jokowi itu “what”nya adalah kalem, merakyat, jujur, tegas. Wakilnya Ahok yang non muslim, keturunan pula – bukan jadi soal buat pemilih – mereka punya “why” yang sama. “What” itu cuma jadi alasan yang disebut, tetapi alasan tersiratnya sebenarnya adalah “Why”nya sama antara warga dan Jokowi.

Sorry, secara kapabilitas (atau “what”nya dalam istilah saya diatas) Fauzi Bowo yang memenuhi syarat tetapi secara “why” Jokowi yang berhasil menginspirasi.

Jadi saat warga pemilih Jokowi datang ke TPS, mereka sebenarnya BUKAN karena “what”nya Jokowi, mereka memilih karena apa yang mereka percayai bisa terwujud oleh Jokowi. Jadi benar judul episode Mata Nadjwa, Jokowi adalah salah satu leader yang menginspirasi.

Hari ini, apa yang warga Jakarta percayai tahun lalu, makin percaya akan terwujud. Itulah sebabnya saat jalan-jalan masih tergenang, macet tambah parah terjadi, namun tingkat kepuasan terhadap Jokowi tetap tinggi, bahkan, polling sebagai capres pun semakin melejit.

Jadi, anda tahu sekarang bagaimana Apple menjadi perusahaan yang paling menguntungkan. Orang rela antri bahkan berjam-jam untuk setiap produk iPhone yang akan keluar. Apple punya “karena because” yang sama dengan orang orang yang mempercayai “why”nya mereka yaitu perusahaan yang hanya menginginkan menciptakan sesuatu yang berbeda, dengan cara berbeda, untuk orang yang punya style. Itulah “why” yang membuat mereka menciptakan produk yang didesign dengan baik dengan kualitas berkelas, after sales service yang pasti berbeda dengan kompetitornya.

Apakah iPhone tidak ada cacatnya? Atau ada yang lebih baik dari sisi spesifikasi? Ada. Namun yang “what”itu tidak berarti apa-apa dibanding “why”nya.

Karena “why” perusahaan itu begitu kuat, sehingga semua produk keluaran Apple selain iPhone, seperti iPad, Mac, Macbook, iPod pasti dibeli orang sengan antusias, padahal harganya terhitung mahal.

Banyak lagi contoh2 perusahaan yang menginspirasi orang-orang mengambil tindakan untuk membeli, yang kadang bukan karena harga, tetapi karena “why” yang sama dengan pembelinya.

Bagaimana dengan perusahaan tempat kita bekerja? Tugas kita mencari why-nya, sehingga modal bukan lagi alasan, SDM bukan lagi alasan, tetapi “why” kitalah yang akan menarik orang untuk membeli produk atau bahkan mengundang profesional terbaik ingin menjadi karyawan di perusahaan kita.

Semua yang saya sampaikan diatas terilhami oleh buku “Start with Why” dari Simon Sinek.

Buruh itu manusia, yang lain?

Baca tentang demo buruh beberapa hari lalu bikin hati gregetan.

Trus barusan baca trit di kaskus tentang pembelaan pada buruh membuat saya jadi tambah greget. Kenapa saya tidak sependapat dengan serikat2 buruh itu?

Saya karyawan, yang secara tidak langsung diuntungkan dengan kenaikan upah minimum, tapi tidak terpikir tuh naik upah dengan cara2 seperti itu. Buat saya, naik gaji itu harus ada timbal baliknya, harus tunjukin prestasi. Kalau sudah berprestasi tidak kunjung diperhatikan juga? Itu lain cerita, mau gak mau ganti alamat kantor.

Jadi kalau buruh – yang kebanyakan tidak punya skill – menuntut upah lebih, dasarnya apa? Biaya hidup yang tinggi? Tidak cukup beli baju, rumah, makan di mall? Butuh beli kulkas, pulsa, motor, liburan?
Anda keterlaluan.

Pendapat saya, kalau upah buruh kecil, JANGAN JADI BURUH!

Kalau anda merasa perusahaan untungnya besar dan semakin besar, memang begitulah hakikat perusahaan, makanya hanya SEDIKIT ORANG yang punya mental baja yang mendirikannya yang bisa menikmatinya.

Kalau anda merasa upah anda dan teman2 anda terlalu kecil di perusahaan itu, ya keluar saja. Pasti mereka kalang kabut kalau memang butuh anda. Kenyataannya, anda tidak berani keluar kan? Karena anda tahu anda tidak bisa apa-apa. Satu-satunya cara adalah menuntut ke pemerintah menetapkan upah minimum yang secara logis bisa menutupi biaya hidup anda.

Untuk pemerintah, khususnya DKI, saran saya jangan naikkan lagi upah minimum regional. Biarkan sampai provinsi lain lebih tinggi dari DKI, sehingga buruh2 ini akan keluar dari Jakarta. Tapi biaya izin usaha juga di tinggikan supaya jangan banyak lagi pabrik- berdiri di ibukota.

Masih banyak pekerja2 lepas yang hidupnya bukan dari upahan, tapi dari komisi, persenan, borongan, dll. Terlihat kan ego buruh ini?

Kapan mau ajari bangsa ini untuk berjuang? Harusnya bekerja jadi buruh sifatnya hanya SEMENTARA sambil mencari kesempatan di tempat yg lebih baik.

BURUH, atau serikat buruh seperti ini tidak akan pernah puas dengan berapapun yg mereka terima. Itu pasti.

Review Samsung Galaxy Tab 3 8.0

Setelah seminggu lebih mencoba akhirnya saya ingin berbagi pengalaman saya tentang Samsung Galaxy Tab 3 8.0

Sebelum saya beli tablet ini saya sudah mengincar Ipad Mini Wifi 16GB karena budget saya sekitar angka 4 jutaan. Hitungan saya, kalau punya Ipad Mini saya juga harus membeli smartphone android dual SIM, secara smartphone ini b7sa hotspot tethering guna mensuplai koneksi internet ke Ipad Mini.

Nah satu bulan searching kendalanya justru mencari Smartphone Android Dual SIM yang paling cocok, maklumlah harapannya terlalu tinggi dengan budget terbatas.

Eh selagi menjelang deadline beli (he-eh..) tiba-tiba baru sadar ada tablet Samsung Galaxy Tab 3 8.0 dengan ukuran layar seperti Ipad Mini dengan budget yang sama tetapi spek-nya jauh diatas Ipad Mini.

Dari dulu saya tidak pernah tertarik membeli Samsung Galaxy Tab. Alasan utamanya soal layar 7 inchi yang terlalu kecil buat tablet (sampai sekarang saya masih heran koq ini katanya sesuai survey pasar), sedangkan 10.1 inchi terlalu besar untuk dibawa-bawa.

Dulu pernah sih Samsung keluarin Tab ukuran 7.7 dan 8.9, namun saat iyu sih saya sudah terlanjur beli ZTE Light Tab 2.

Kembali ke Galaxy Tab 3 8.0 hal yang pertama yang memuaskan adalah ukuran layarnya. 8 inchi sangat tepat buat yang suka berselancar internet dengan tampilan desktop. Ukuran ini juga pas untuk baca ebook baik dalam format epub maupun 9df karena ukuran font nya nyaman. Kalau ada teman yang bilang umur pengaruh, yah what ever lah..hehe.

Yang kedua, RAM 1.5GB sudah sangat leluasa untuk menjalankan aplikasi-aplikasi yang butuh memori banyak. Ditambah lagi Processor yang digunakan adalah Samsung Exynos 4212 Dual Core 1.5Ghz dengan GPU Mali-400MP rasanya sudah cukup untuk menjalankan device ini dengan smooth. Saya bikan pecinta game, jadi spek ini sudah cukup.

Adalagi yang bilang layarnya bukan IPS dan tidak menggunakan Gorilla Glass, buat apa? Saya tidak lihat perbedaan yang signifikan, kebetulan istri pakai Smartfren Andromax-i, malah terlihat layarnya lebih bagus Samsung.

Yang ketiga, fitur multimedianya cukup bagus. Kamera 5MP nya cukup bagus dipakai bila dibandingkan dengan kamera 5MP buatan vendor lain sekalipun tidak ada flash. Suara yang keluarpun mantap karena dilengkapi fitur Dolby Surround.

Yang keempat, konektivitasnya cukup lengkap. Bisa dipakai teleponan, walau agak kurang nyaman sih kalau terima telepon. Namun cukuplah kalau tablet ini dipasangi kartu SIM secondary, jangan nomor telepon utama, dijamin repot dan dianggap aneh oleh orang-orang.

Selain konektivitas standard seperti HSDPA, Wifi, Bluetooth, tablet ini juga bisa menggunakan kabel USB OTG sehingga kita bisa menyambungkan flashdisk langsung menggunakan kabel ini. Sayang dalam paketnya kabel USB OTG tidak disediakan.

Juga ada port infrared yang hampir jarang dipasang padasmartphone terkini kecuali yang tergolong high-end. Saya sendiri merasakan manfaat port infrared ini saat remote TV ngumpet entah dimana, aplikasi Peel Smart Remote yang terhubung dengan port ini dengan mudah sekali langsung bisa dimanfaatkan.

Hal lain yang bisa dijadikan keunggulan dari Samsung Galaxy Tab 3 8.0 ini adalah beberapa aplikasi pre-installed cukup bermanfaat seperti Polaris Office, Paper Artist, S Memo, S Planner. Beberapa tidak ada manfaatnya jadi saya force close atau turn-off kemudian di hide.

Okey sekarang saya bahas beberapa kekurangannya.

Baterainya ternyata non-removable. Jadi terbayangkan repotnya bila ada masalah dengan baterainya? Saya baru sadar saat tablet ini di-unpacking. Semoga baterai tidak kenapa-kenapa yah.

Tidak ada flash buat kamera dan LED notification saya masukkan sebagai kekurangan. Harusnya dengan harga 4 jutaan penambahan fitur ini rasanya tidak akan merugikan Samsung.

Lainnya? Just so-so seperti smartphone Android pada umumnya.

Oh ya untuk yang baca review ini harus sudah pernah pengalaman memakai android yah, kalau engga pasti banyak yang jadi pertanyaan deh.

Friend indeed is a friend in need, setuju?

Hampir semua orang yang paham frasa ini akan setuju dengan hal ini.

Oh ya buat yang belum tahu artinya: teman sejati adalah teman yg ada saat dibutuhkan.. *sok tau.

Beginilah respon rata-rata orang-orang yg saya tanyai:
“Bener tuh, gw baru tau si A itu orgnya kyk gitu, gw lagi butuh bantuan dia aja susahnya bukan maen, giliran dia aja, maunya ditolongin terus”
“Minggu lalu gw pinjam duit 100rb ama tuh orang susahnya bukan main, bukan teman baik gw ternyata..”

Apa yg anda perhatikan? Ya, rata-rata melihat dirinya sebagai “friend in need”. Jarang yg ngomong “Eh iya bener yah, ternyata gw selama ini kurang respon ama temen gw, egois yah gw”. Ini posisi dimana anda ingin menjadi “teman sejati”.

Jangan heran apabila org yg selalu memposisikan dirinya sebagai “friend in need” dalam kesehariannya, akan mulai kehilangan teman-teman baiknya. Dia akan tetap punya teman, tapi bukan teman baik.

Teman baik atau teman sejati bukanlah teman selalu bersama-sama anda terus. Teman baik adalah org yg bisa anda percayai. Teman yg mau hadir untuk anda disaat anda butuh. Mungkin sebagai teman curhat, mungkin tempat meminjam uang (asal jangan gede2 yah), mungkin tempat menyampaikan rahasia2 anda..

Bila anda punya teman-teman seperti ini cukup banyak dan bertahan lama, saya pastikan anda juga seorang teman sejati buat mereka.

Saya kutip dikit dari buku Robert T Kiyosaki “Kekayaan anda, bukanlah dari seberapa besar uang yg anda miliki, tetapi seberapa banyak kawan (baik) yg anda miliki!”