Anak Tuna Rungu: Sekumpulan di Hiruk Pikuk Dunia

Dulu rasanya nggak kepikiran mengenai dunia itu. Nonton di TV (waktu dulu ada di TVRI) ada orang yang memperagakan bahasa isyarat, hanya bisa mengangguk, ooh itu toh yang namanya bahasa isyarat, seperti kode morse. Rasanya tidak ada yang  istimewa dan berlalu begitu saja dari pikiran ku.

Tetapi semua itu menghentak ketika 6 tahun lalu mulai aku menyadari anakku adalah salah seorang penderita disablement ini. Mulanya nggak percaya tetapi setelah dilakukan tes berkali-kali akhirnya anakku divonis hal ini. Hidup rasanya tak berarti lagi, semua kesempurnaan yang kumiliki seakan nggak berarti. Mengapa terjadi padaku? Kenapa Tuhan biarkan terjadi padaku?  Apa kesalahanku? Hampir sering aku menangis dan menyalahkan diriku sendiri. ..

Akhirnya, tidak ada yang bisa kuperbuat. Inilah kenyataannya, aku harus menerimanya. Anakku harus mendapatkan pendidikan yang layak. Semua hal tentang tuna rungu aku coba pelajari, tes-tesnya, cara mengahdapinya, psikologisnya, coba merasakan yang mereka alami, …semuanya.

Baru aku mengerti biaya pendidikan buat mereka cukup tinggi juga. Bayangkan satu unit alat bantu dengar yang model paling murah saja sudah mencapai 1,8 juta  tahun 2003. Belum uang sekolahnya yang cukup  ‘berbeda’ dengan sekolah biasa. Kesabaran adalah hal yang paling diuji menghadapi anak seperti ini.

Tetapi itulah takdir yang harus aku jalani. Beruntung aku masih cukup bisa  memberikan apa yang di butuhkan walau tidak semuanya.  Tetapi bagaimana dengan yang tidak mampu sama sekali? Bagaimana yang orangtua yang tidak mempedulikan hal ini dan membiarkan anaknya tanpa pendidikan sama sekali? Apa yang diharus diprioritasnya pemerintah? Anak yang normal dulu kah?

Ini pertanyaan yang berkecamuk dalam hati. Seandainya anda membaca ini, berilah solusi buat anak-anak seperti ini. Ada ratusan ribu yang seperti ini di Indonesia. Kalau anda mampu bantulah mereka. Minimal berilah penghargaan atau rasa tepa selira. Karena itu yang mereka butuhkan. Menjadi ‘berbeda’ itu kadang menyakitkan.

Bayangkan tidak bisa mendengar dan tidak bisa berbicara (walau ada suara). Bisu jadi efek sampingan karenatidak bisa mendengar. Mendengar cemoohan teman-temannya yang normal sudah biasa, tetapi kadang saat dia menyadarinya kemudian sedih, itu yang menyakitkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: