Beda Fakta dan Opini: Hari-hari ini

Anda tahu rasa gula? Manis? Seandainya anda ketemu satu orang dan mengatakan gula itu asin anda akan berpikir bahwa orang itu gila. Tetapi anda ketemu banyak orang dan mayoritas berkata bahwa gula itu asin, apakah anda mulai berpikir bahwa anda yang gila bilang gula manis? Opini yang paling sering didengar membuat orang akan menganggapnya fakta. Ini disebut persepsi. Cara inilah yang dipakai oleh marketing dan politisi untuk menggolkan maksud dan tujuannya.

Itulah pentingnya punya pengetahuan dan mempelajari berbagai hal dengan detil. Kasihan orang-orang yang tidak memahami ini. Aku gak habis pikir kenapa ya orang banyak ngomong mebela sesuatu atau meyakini sesuatu tanpa mempelajari lebih detil dulu. Mbok ya comment atau menghina orang jangan berdasar opini dan fakta sebagian (tidak lengkap).

Aku sih gak heran bangsa kita nggak pernah maju-maju, kebanyakan tipikal manusianya kayak gini. Asal telan aja info dan enggak diselidiki dahulu.

Pemilu 2009 politisi PDI-P Maruar Sirait, dkk menyatakan bahwa ada dugaan kecurangan dalam Pemilu DPR dan Pilpres, seperti orang yang dibatasi haknya dan banyak yang tidak bisa memilih. Kenyataannya, jumlah yang diisukan mencapai puluhan juta suara itu – hebat kalau orang bisa mencurangi sampai puluhan juta suara – ternyata hanya ratusan suara (fakta atau opini?)

Penetapan harga premium menjadi 5.500 dari 4.500, yang presidennya didemo habis-habisan karena kenaikan ini dikatakan neoliberal? Kalau neoliberal mungkin harga bukan hanya 5.500 bisa-bisa 12.000 – karena dilepas sesuai harga pasar, tidak disubsidi – !! (fakta atau opini?)

Kasus Bank Century, awalnya adalah kecurigaan adanya duit yang mengalir ke partai dan capres pemenang pemilu, ternyata berdasarkan penyelidikan yang terbuka dan terang benderang, kecurigaan itu tidak terbukti. Untuk menutup malunya isunya dialihkan terhadap kebijakan yang diambil oleh SMI dan Boediono.. (fakta atau opini?)

Ada yang bilang JK hebat langsung memerintahkan Kapolri menangkap Robert Tantular. Kebetulan dia terbukti bersalah, kalau tidak bersalah, walaaah, ada yang bilang JK hebat? Yang pasti sih Kapolri mau mengerjakan apa yang disuruh JK karena dia sudah yakin dulu ada bukti awal, kalo nggak mana mau dia melakukan perintah JK, bisa-bisa dituntut balik dia. (fakta atau opini?)

Kalo masalah kebijakan, yaa boleh dianalogikan seperti ini, Anda punya anak perempuan tiba-tiba hamil diluar nikah. Ketahuannya ketika perutnya sudah mulai membesar. Ada dua alternatif, anda mengusirnya atau tetap menganggapnya anak dan mengambil tindakan untuk menolongnya dengan mengesampingkan dulu fakta bahwa dia bersalah. Dua-duanya punya resiko, sama-sama menanggung malu tetapi kalau mengusirnya ada tambahan resiko anda akan disangka orangtua yang jahat. Anda harus ambil keputusan sekarang karena perut anak anda sudah mulai kelihatan.
Apapun keputusan yang anda ambil, pasti akan ditanggapi berbeda oleh keluarga besar anda. Orang boleh mempersalahkan atas setiap keputusan anda, tetapi bukan berarti anda salah. Siapa yang bisa menjamin mengusirnya adalah tindakan yang benar, demikian juga sebaliknya? Sebagian besar kritikus adalah orang-orang yang tidak mengalami situasi yang anda rasakan.

Bahkan ada yang yang ngomong – pak Kwik Kian Gie baru-baru ini di MetroTV – bahwa Boediono dan Sri Mulyani Indrawati adalah orang-rang yang tidak diragukan lagi integritasnya, tetapi demi kebaikan dan demi hukum menyarankan mereka mundur dari jabatannya. Rasa hormat saya sama Kwik Kian Gie sih sudah berkurang sejak 2009, ditambah opini dia sekarang ini membuat saya tambah tidak respek. Dengan cara seperti ini, apa bedanya dengan kasus pemulung yang tertangkap memiliki ganja? Atau kasus-kasus keadilan lainnya? Keadilan diatas hukum seharusnya. Orang yang tidak punya motif tetap dianggap salah padahal sudah diketahui integritasnya? Apa sih maunya?

Tapi baguslah ada Pansus Century ini. SBY aja sampai terimakasih-terima kasih. Kenapa? Sebagai ajang pembuktian bahwa beliau tidak menerima sedikit pun dana Century dalam kampanye pilpres. Yang terpenting beluai bisa membedakan mana anggota koalisinya yang:
– licin seperti ular
– penusuk dari belakang
– bodoh dan penjilat

Kalau ada yang bilang – kata-katanya Mochtar Ngabalin – bahwa semua rakyat sudah tidak senang dengan SBY, saya mau ngomong, rakyat yang mana Mas Ngabalin? Politisi seperti anda kali? Atau pakar komunikasi seperti Effendi Ghazali yang anda sebut rakyat? Tolonglah jangan hiperbola. Sebut aja sebagian rakyat.

Semoga orang setiap orang dalam wilayah Republik Indonesia bisa membedakan mana FAKTA mana OPINI mana FAKTA SEBAGIAN. Jangan gampang dipengaruhi orang, apalagi politisi, membuat kita jadi gampang jadi bertindak negatif. Syukur-syukur kita dipengaruhi untuk sesuatu yang baik.

Kalau pemerintahan kita ada yang tidak baik, kritisilah dengan data dan fakta yang benar dan lengkap jangan kita berpihak hanya berdasar OPINI atau FAKTA SEBAGIAN.

Hidup Indonesia!

4 responses to this post.

  1. Kalau say sih melihat fakta saja, jalan rusak, macet, tanah longsor, makin banyak pak ogah dan pengemis, tiang-tiang monorel terbengkalai, karena itu yang saya lihat dan alami tiap hari.

  2. Setuju pak. Itu fakta, tapi FAKTA SEBAGIAN. Seperti kalo kita memilih istri, misalkan, calon istri kita katakanlah agak hitam (fakta), kuper (fakta), wajah jerawatan (fakta) tapi ada fakta lain, misalkan hatinya baik, taat beragama, bersih, rapih. Apakah bapak hanya melihat fakta yang buruk saja? KAlau semua orang seperti itu, yakinlah pak, nggak bakal ada yang bisa mimpin Indonesia. Kalo ada calon presiden yang menjamin begitu terpilih bisa langsung perbaiki semua jalan, bisa langsung menghilangkan pengemis, dll. saya pasti pilih dia koq pak..

  3. setuju juga pak, dan makin setuju lagi kalau fakta buruk itu diperbaiki. Mengenai hati sulit diduga, seperti kata pepatah “dalamnya laut dapat diduga, dalam hati siapa tau”. Semoga hal-hal baik makin tumbuh dan berkembang dengan demikian kita dapat merasakan perbaikan terhadap hal buruk seeperti terhadap fakta (sederhana) tersebut

  4. Thk y pak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: