Karena Because

Judul ini saya buat karena ingat candaan garing waktu kuliah dulu: Mengapa why selalu always tetapi but dan and tidak pernah never? Maka jawabannya adalah judul diatas.

Namun, judul itu berkaitan dengan yang saya mau sampaikan, tentang sesuatu yang luar biasa, yang telah diterapkan oleh leader-leader top dan perusahaan-perusahaan besar di dalamnya. Wajib baca buat anda yang punya kuasa membuat strategi perusahaan. Bagaimana mereka bisa jadi leader top atau perusahaan hebat padahal sebelumnya di kritik habis, secara teori sebagian diantaranya kurang modal, sebagian lagi kurang pengalaman.

Saya ambil contoh leader yang patut diberi jempol: Jokowi. Jokowi pertama kali jadi sorotan karena kesuksesannya memimpin kota Solo. Namun yang membuatnya sering muncul di media adalah saat terjadi pemboman di salah satu gereja di Solo. Terlihat bagaimana warga Solo begitu respek pada beliau.

Kemenangannya sebagai Gubernur DKI membalikkan semua prediksi. Bayangkan semua lembaga survey menyatakan bahwa Fauzi Bowo punya kans menang bahkan satu putaran. Partai yang dukung pun cuma PDI-P dan Gerindra. Kenapa bisa menang?

Bahkan sampai hari ini pun, setahun lebih pemerintahannya, berdasarkan hasil survey, tingkat kepuasan masyarakat sangat tinggi, bahkan saat dimana semua janji-janji kampanyenya belum terwujud, banjir masih terjadi, kemacetan dimana2 kartu sehat dan kartu pintar pun masih ada kendala. Kenapa masih di sukai?

Inilah rahasianya: Karena because. Kenapa?

“Karena” dan “because” itu sama saja artinya, satu bahasa Indonesia, satu lagi bahasa Inggris. Ini yang saya maksud.

Jokowi mau menjadi gubernur bukan karena jabatan, dia ingin membuat perubahan, membuat Jakarta Baru, istilah yang dipakai saat kampanye. Dan apa yang dia percaya bisa diwujudkan, itulah yang dipercaya orang yang memilihnya.

Jakarta Baru yang bebas dari korupsi, bebas dari kolusi, pemerintah yang merakyat dan yang melayani, pemerintah yang bebas dari belenggu preman dan pengusaha hitam, itu yang diinginkan warga Jakarta.

Impian yang ingin diwujudkan Jokowi sama dengan yang diinginkan warga Jakarta. Tujuannya atau “why” sama, dari sisi yang berbeda, satu sebagai yang akan dipilih sebagai penerima kuasa, satu lagi pemilih yaitu warga Jakarta

Ini dulu yang diyakini pemilih: “why”-nya.
Why-nya sudah sama baru mereka lihat “what”-nya. Jokowi itu “what”nya adalah kalem, merakyat, jujur, tegas. Wakilnya Ahok yang non muslim, keturunan pula – bukan jadi soal buat pemilih – mereka punya “why” yang sama. “What” itu cuma jadi alasan yang disebut, tetapi alasan tersiratnya sebenarnya adalah “Why”nya sama antara warga dan Jokowi.

Sorry, secara kapabilitas (atau “what”nya dalam istilah saya diatas) Fauzi Bowo yang memenuhi syarat tetapi secara “why” Jokowi yang berhasil menginspirasi.

Jadi saat warga pemilih Jokowi datang ke TPS, mereka sebenarnya BUKAN karena “what”nya Jokowi, mereka memilih karena apa yang mereka percayai bisa terwujud oleh Jokowi. Jadi benar judul episode Mata Nadjwa, Jokowi adalah salah satu leader yang menginspirasi.

Hari ini, apa yang warga Jakarta percayai tahun lalu, makin percaya akan terwujud. Itulah sebabnya saat jalan-jalan masih tergenang, macet tambah parah terjadi, namun tingkat kepuasan terhadap Jokowi tetap tinggi, bahkan, polling sebagai capres pun semakin melejit.

Jadi, anda tahu sekarang bagaimana Apple menjadi perusahaan yang paling menguntungkan. Orang rela antri bahkan berjam-jam untuk setiap produk iPhone yang akan keluar. Apple punya “karena because” yang sama dengan orang orang yang mempercayai “why”nya mereka yaitu perusahaan yang hanya menginginkan menciptakan sesuatu yang berbeda, dengan cara berbeda, untuk orang yang punya style. Itulah “why” yang membuat mereka menciptakan produk yang didesign dengan baik dengan kualitas berkelas, after sales service yang pasti berbeda dengan kompetitornya.

Apakah iPhone tidak ada cacatnya? Atau ada yang lebih baik dari sisi spesifikasi? Ada. Namun yang “what”itu tidak berarti apa-apa dibanding “why”nya.

Karena “why” perusahaan itu begitu kuat, sehingga semua produk keluaran Apple selain iPhone, seperti iPad, Mac, Macbook, iPod pasti dibeli orang sengan antusias, padahal harganya terhitung mahal.

Banyak lagi contoh2 perusahaan yang menginspirasi orang-orang mengambil tindakan untuk membeli, yang kadang bukan karena harga, tetapi karena “why” yang sama dengan pembelinya.

Bagaimana dengan perusahaan tempat kita bekerja? Tugas kita mencari why-nya, sehingga modal bukan lagi alasan, SDM bukan lagi alasan, tetapi “why” kitalah yang akan menarik orang untuk membeli produk atau bahkan mengundang profesional terbaik ingin menjadi karyawan di perusahaan kita.

Semua yang saya sampaikan diatas terilhami oleh buku “Start with Why” dari Simon Sinek.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: